Selama ini sampah selalu dipahami sebagai benda
yang tidak berguna sampah identik dengan suatu yang “kotor”. Namun kini sampah
tengah naik daun. Sampah tidak lagi dipandang picik sebelah mata, karena
ternyata memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi ketika dikelola oleh
orang-orang yang kreatif. Persoalan sampah memang masih menjadi persoalan pelik
bagi kota-kota di Indonesia. Tak terkecuali bagi kota
besar- besar yang tengah berkembang
pesat.
Ada
beberapa hal yang membuat saya menulis kegusaran tentang masalah sampah. Apalagi, sampah menjadi persoalan lingkungan. Pertemuan
saya dengan salah satu pengelola bank sampah Az-Zahra yang meraih urutan ke-7
mendapat penghargaan penilaian dari Pemerintah Kota Bekasi. Ada hal yang
menarik bahwa selamai ini perjalanan beberapa pengelola bank sampah tidak
survive. Pertanyaannya kemudian adalah sudah
berapakah bank sampah yang benar-benar berjalan pengelolaannya di tingkat RT,
RW bahkan kelurahan? Sudahkah pemerintah atau para steakholder yang ada
melakukan pengawasan yang serius terhadap bank sampah? Jika ini belum berjalan
maksimal maka menjadi cambuk bagi ranah para pengambil kebijakan untuk lebih
aktif. Tetapi, kalau pemerintah mengadakan pengawasan yang serius terhadap
pengelolaan di lapangan, kemudian persoalan sampah apalagi isu lingkungan ini jangan
sampai menjadi ranah kepentingan segelintir orang, yaitu oknum pejabat yang
hanya mementingkan kelompok bahkan pribadi. Kalau pemerintah berjalan sesuai dengan regulasi persampahan maka target Zero Sampah atau isu Indonesia bebas sampah
2020 akan lebih cepat terealisasi. Akhirnya, sampah yang sehari-hari menjadi
persepsi “kotor” tidak akan menjadi
masalah malah terdapat berkah yang berlimpah. Intinya, pemerintah melaksanakan
tugas pokok dan tanggung jawabnya terkait regulasi sampah berpihak kepada
masyarakat. Tanpa ada embel-embel kepentingan.
Saya
penulis juga ikut aktif terlibat sebagai penggerak bank sampah. Tepatnya di
Jalan Perjuangan No. 37 RT 01 RW O1 Kelurahan Marga Mulya Kecamatan Bekasi Utara - Kota Bekasi. Nama
bank sampahnya adalah Bank Sampah Safa Mandiri. Berawal
dari sinilah ketertarikan masalah sampah yang kedepan harapannya sampah sudah
tidak menjadi masalah. Tetapi menjadi suatu keberkahan. Dari sampah setiap
orang bisa mendapat tabungan yang sewaktu-waktu bisa mereka cairkan. Apakah itu
tabungan pendidikan, tabungan sembako, tabungan energi, tabungan qur’ban dan lain-lain.
SAMPAH BUKAN
MASALAH DENGAN PENDEKATAN TEKHNOLOGI
Jika persoalan
sampah ini menjadi isu bersama dari hulu ke hilir maka persoalan di Tempat
Pembuangan Sementara Terpadu (TPST) yang sudah kehabisan lahan juga bisa kita
atasi. Kita ingin meminimalisir sampah tidak lagi polanya di angkut di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) terpadu, tetapi semuanya
bisa dikelola bahkan didaur ulang dan diolah di
tempat pembungan sementara. Dengan Alur
pengelolaan yang berbeda ini, maka jangan sampai ada pengelolaan sampah
tersentralisir di setiap Kabupaten/Kota. Namun pengelolaanya cukup selesai
dengan berbasis Kelurahan/Desa atau bahkan cukup di
tingkat RT/RW saja.
Berikutnya
adalah dengan penerapan program
terpadu di setiap Bank Sampah yang ada pada setiap RT/RW tersebut, maka pengelolaan
sampah tidak lagi perlu sampai berakhir di tingkat Kecamatan hingga
Kabupaten/Kota. Dalam penerapan program terpadu yang mengimplementasikan serta
mengaktualisasikan Iptek Tepat Guna Ramah Lingkungan di setiap Bank Sampah,
maka Bank Sampah yang telah ada akan dapat lebih aktif serta lebih hidup dalam pengelolaan
sampahnya. Penerapan program terpadu yang mengimplementasikan serta
mengaktualisasikan Iptek Tepat Guna Ramah Lingkungan akan melahirkan beberapa unit
kegiatan usaha pemberdayaan masyarakat, seperti “Rumah Inovasi” serta “Bengkel
Kreasi” juga “Gudang bahan bakar ramah lingkungan dan energi bersih”, lalu
“Lumbung pangan agro organik” kemudian “Kios Sinergi” berikut “Klinik terapi
kesehatan terpadu dan alami” hingga “Sekolah Peradaban” (Sekolah Komplementer
berbasis Pengolahan Sampah dan Pemberdayaan Masyarakat), yang itu semua berada
di area atau lokasi yang berdekatan dan Terintegrasi.
Rumah Inovasi serta Bengkel Kreasi adalah wahana
untuk mengolah sampah serta limbah menjadi produk kreatif serta inovatif yang
berfungsi dan bernilai jual tinggi seperti furniture serta alat peraga
pendidikan juga permainan edukatif hingga sparepart
atau komponen mesin. Gudang bahan bakar ramah lingkungan dan energi bersih
adalah wahana untuk mengolah sampah serta limbah menjadi bahan bakar ramah
lingkungan dan energi bersih, dengan menerapkan Iptek Tepat Guna Ramah
Lingkungan Berupa Teknologi Reaksi Kimiawi, Teknologi Concentrated Solar Thermal, Teknologi Plasma Fusion. Sampah atau limbah yang dapat diolah menjadi bahan
bakar ramah lingkungan dan energi bersih adalah sampah organik serta AnOrganik
yang nilai jualnya sangat rendah seperti plastik kresek serta bekas bungkus mie
instan juga bekas bungkus snack. bahan bakar ramah lingkungan tersebut berupa
bahan bakar minyak sintetis serta bahan bakar gas sintetis.
Lumbung pangan agro organik adalah wanaha untuk
mengolah sampah dan limbah sebagai pupuk organik serta pestisida organik untuk
bercocok tanam sayuran serta buah dan tanaman obat secara organik, berikut
beternak cacing serta bekicot dan rayap yang akan diolah menjadi pupuk organik
serta pakan ternak ikan juga pakan unggas berikut pakan kelinci dan pakan
domba.
Kios sinergi adalah wahana yang berfungsi
sebagai tempat untuk menjual produk yang dihasilkan dari rumah inovasi serta
bengkel kreasi juga gudang bahan bakar dan energi bersih berikut lumbung pangan
agro organik, yang dalam transaksinya para pembelinya adalah nasabah dari bank
sampah yang menjadikan saldo tabungannya ditukar dengan voucher yang dapat
digunakan sebagai alat tukar atau alat jual belinya.
Klinik kesehatan alami terpadu adalah wahana
untuk memberikan pelayanan kesehatan serta terapi, yang para pengelolanya
adalah dokter serta paramedis juga terapis kesehatan alami dan terpadu, yang
semua itu menjadikan hasil dari lumbung pangan agro organik sebagai materia
medikanya, untuk direkomendasikan kepada para pasien atau klien yang juga
adalah nasabah dari bank sampah tersebut. Para dokter serta paramedis juga
terapis dari klinik kesehatan alami terpadu akan mendapatkan income yang
dihasilkan dari sebagian keuntungan pengelolaan bank sampah serta kios sinergi.
Sekolah peradaban adalah lembaga pendidikan
serta pelatihan ketrampilan komplementer. Di sekolah ini para pendidik serta pengajarnya adalah
para personal yang mempunyai minat serta kemampuan dalam bidang pendidikan yang
berorientasi pada sektor ketrampilan serta teknologi tepat guna, juga peduli
terhadap pemberdayaan sosial yang berkelanjutan berikut keharmonisan dan
keasrian lingkungan hidup yang lestari. Sekolah peradaban ini pula yang akan
menjadikan sampah serta limbah dan barang bekas menjadi bagian dari sistem
serta proses dan alat dalam melakukan kegiatan belajar dan mengajarnya. Di sekolah
peradaban ini para siswa dapat gratis untuk memperoleh pendidikan berkualitas,
dengan menjadikan sampah serta limbah dan barang bekas sebagai alat bayarnya
sekaligus bahan dasar dan utama untuk melakukan pembelajaran, berupa praktek
eksperimental hingga membuat produk yang sangat bermanfaat dan bernilai jual
yang tinggi. Sehingga dari kegiatan di sekolah tersebut para siswa sudah mempunyai
ketrampilan yang mumpuni dalam berinovasi serta berkreativitas, dengan hasilnya
berupa produk yang dapat dijual untuk biaya operasional serta pengembangan
infrastruktur bagi keberlangsungan dan keberlanjutan sekolah peradaban
tersebut. Produk tersebut mulai dari kerajinan tangan hingga peralatan rumah
tangga ataupun produk – produk bermanfaat lainnya seperti pernak – pernik
aksesoris, perhiasan, furniture, bahan bakar ramah lingkungan hingga mesin –
mesin yang menerapkan iptek tepat guna ramah lingkungan.
Sehingga dengan penerapan program terpadu di
setiap bank sampah yang ada pada setiap rt/rw tersebut, maka sampah bukan lagi jadi masalah, namun sampah adalah aset serta komoditas
juga potensi dan bahkan sampah justru adalah sebagai solusi bagi kita semua,
baik untuk kebutuhan energi serta pangan juga kesehatan berikut pendidikan lalu
penyerapan tenaga kerja hingga penguatan ekonomi
sektor mikro sekala domestik hingga nasional atau makro di negeri nusantara
ini.
Oleh : Ahmad Dahlan ( Direktur Bank Sampah Safa Mandiri, Mantan
Ketua KAMMI NTB 2012-2014)



Direktur Bank Sampah Safa Mandiri-Mantan Ketua KAMMI Lombok.
0 komentar:
Posting Komentar