Mengawal Pilkada ‘Bumi Tatas Tuhu Trasne’ yang Bermartabat dan Damai
Posted by Pujut Dahlan
Posted on 03.45
with No comments
Pilkada serentak tinggal menunggu hari. Dimana
masyarakat akan menggunakan hak
politiknya memilih calon pemimpinnya pada
tanggal 9 Desember 2015. Di Nusa Tenggara Barat ada tujuh daerah kabupaten/Kota yang akan ikut serentak melaksanakan
euphoria pilkada. Pilkada NTB akan diikuti oleh 26 pasangan calon. Kabupaten
Lombok Tengah dengan pasangan terbanyak
ada 6 calon kandidat. Kabupaten Bima ada 5 pasangan calon.. Dompu dengan
4 pasangan calon. Kabupaten Sumbawa
dengan 3 pasangan calon. Kabupaten Sumabawa Barat dengan 4 pasangan calon.
Kabupaten Lombok Utara 2 pasangan calon. Terakhir Kota Mataram 2 pasangan
calon. Sementara untuk keseluruhan semua
daerah ada 269 daerah yang terdiri dari 9 Provinsi , 36 Kota, dan 224
Kabupaten.
Saya pribadi menelisik satu kabupaten yaitu
Kabupaten Lombok Tengah dimana saya dilahirkan
dengan harapan pelaksanaan pilkada Lombok Tengah atau kita kenal dengan ‘Bumi Tatas Tuhu Trasne’ lebih bermartabat dan
damai serta menghasilkan pemimpin yang berintigritas serta amanah. Nama pasangan cabup dan cawabup Kabupaten
Lombok Tengah diantaranya 1. H.M Suhaili FT, SH dan Lalu Fathul Bahri, S.Ip diusung
oleh PKS dan Gerindra. 2. H. Suharto dan Hj. Lale Widare dari pasangan
perseorangan. 3. H. Lalu Suprayatno, SH,MBA,MM dan Zaenul Aidi, SP, diusung
oleh partai Demokrat, PBB, PDIP dan PKPI. 4. TGH. L. Gede Ali Wirasakti Amir
Murni LC,MA dan H.L Acmad Wirajaya diusung oleh Hanura, Nasdem, PKB. 5. Dari
pasangan perseorangan. . H. Lalu Wiratmaja, SH dan H. Badrun Nadianto, S.Sos,
S,Kep,M.Pd.
Bicara tentang pilkada berarti melihat tentang sosok
figure, track record kapasitas, kapabilitas dan integritas para calon pemimpin
yang akan menjadi kontestan. Pada dasarnya prinsip pelaksanaan pilkada adalah bagaimana rmengedepankan demokrasi agar
kedaulatan ada di tangan rakat bukan di
tangan penguasa atau mereka yang
berambisi dengan syahwat politik.
.
Kabupaten Lombok Tengah membutuhkan figure yang
tidak hanya mampu berwacana hebat seperti umunya dan kebanyakan orang. Namun
dibutukan sebuah dedikasi untuk mengemban amanah dengan baik, memahami persoalan
tentang kondisi daerah Lombok Tengah yang membutuhkan percepatan program pembangunan yang baik. Sehingga ketika terpilih
benar-benar mengabdi untuk rakyat. Bukannya, setelah jadi malah meraup uang rakyat dengan mengincar
proyek-proyek siluman untuk mengembalikan cost politik. Begitulah, habit para
pemimpin kalau sudah duduk di kursi lupa dengan janji-janji politiknya.Sehingga proses pelaksanaan pilkada sampai
terpilihnya pemimpin menghasilkan output yang tidak produktif malah justru
mengkhianati rakyat.
Fakta yang terjadi di beberapa pilkada sebelumnya timbulnya
‘makelar politik’ seperti menguatkan tradisi transaksional politik yang sudah
mengakar ke lapisan masyarakat dan merusak tatanan berbangsa dan bernegara
sehingga persis yang dikatakan oleh Emmanuel Kant yang muncul kemudian ‘Power tends to corrupt. Absolute power tends
to corrupt absolutely’ .Karena untuk mendapatkan kekuasaan itu dengan cara
yang salah akhirnya kecendrungan untuk mengumpulkan modal menjadi prioritas, sangat
kontraproduktif dengan janji-janji pada waktu kempanye. Masyarakat harus sadar
dengan tontonan para actor politik hari ini. Jangan salah memilih pemimpin. Perubahan
hanya bisa kita wujudkan dengan memilih
para pemimpin yang out of the box dalam
berpikir.
Selama ini Kabupaten Lombok Tengah dikenal dengan
rasa sosialnya masih tinggi. Trah kekeluargaan antar keluarganya masih kuat
yang itu semua menjadi ruang para kandidat masuk dengan bersilaturrahmi. Jangan
sampai masyarakat Lombok Tengah hanya dijadikan objek dari proses demokrasi
ini. Demokrasi harus benar-benar fair.Dari
proses pelaksanaannya harus jujur dan adil tanpa ada yang dirugikan. Harapannya
proses demokrasi pilkada di Lombok Tengah menghasilkan kualitas pemimpin bukan dinilai dari detik-detik terakhir yang
bisa diselesaikan dengan ‘uang’ namun lebih pada pencerdasan politik masyarakat
Lombok Tengah.
Kita semua mengetahui Masyarakat Lombok Tengah juga hampir
warganya adalah orang berpendidkan yang tentunya punya ekspektasi tinggi menginginkan
sosok figure yang secara kapasitas sudah tidak diragukan lagi memimpin Bumi
Tatas Tuhu Trasna. Fakta integritas antar semua calon kandidat juga harus
disepakati supaya tidak ada tendensi terjadinya konflik vertical dan horizontal
baik sebelum pelaksanan pilkada maupun pasca pelaksanaan pilkada. Karena kita
tidak ingin masyarakat mudah terprovokasi apalagi lebih mengedapankan otot atau
kita kenal dengan ‘pagahnya’ daripada otak. Pemimpin yang kita harapkan
adalah yang mampu membawa perubahan lebih baik selama 5 tahun ke depan. Saya
pribadi mengakui progress pembangunan Lombok Tengah selama kepemimpinan Suhaili
–Normal cukup bagus walaupun memang banyak hal juga yang belum optimal. Apalagi Pemimpin terpilih nanti
tidak hanya focus pada Pembangunan
infrastruktur secara fisik, sumber daya manusia juga butuh perhatian serius,
pemimpin berikutnya juga harus lebih kreatif dalam hal pencapian anggaran
jangan mengulangi kecelakaan sejarah dengan kesalahan difisit anggaran namun
peningkatan PAD juga harus di tingkatkan, visi-misi jangan hanya simbol dengan
judul-judul besar tapi tetap berpacu dan
berporos pada visi-misi yang kuat untuk dilaksanakan.
Dari lima pasang kandidat yang bertarung pada
tanggal 9 Desember 2015 nanti sudah saatnya masyarakat Kabupaten Lombok Tengah
memilih pemimpin yang punya kapasitas dan kapabilitas memimpin untuk membawa
daerah lebih baik dari sebelumnya. Masyarakat Lombok Tengah sudah harus
meninggalkan sistem feodalistik yaitu memilih berdasarkan
kedekatan kekeluargaan. Dan matrealisitik. yaitu memilih karena ada potensi
uang yang diberikan oleh calon kandidat. Jangan sampai waktu yang 5 tahun
tergadai oleh persoalan uang. Jangan sampai hak politik kita pada tanggal 9 Desember
2015 nanti kita jual, harkat dan martabat daerah kita jadi rendah
karena kita salah memilih pemimpin.
Oleh : Ahmad Dahlan ( Mantan Ketua Umum KAMMI NTB
2012-2014)
Sampah Bukan Masalah
Posted by Pujut Dahlan
Posted on 19.50
with No comments
Selama ini sampah selalu dipahami sebagai benda
yang tidak berguna sampah identik dengan suatu yang “kotor”. Namun kini sampah
tengah naik daun. Sampah tidak lagi dipandang picik sebelah mata, karena
ternyata memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi ketika dikelola oleh
orang-orang yang kreatif. Persoalan sampah memang masih menjadi persoalan pelik
bagi kota-kota di Indonesia. Tak terkecuali bagi kota
besar- besar yang tengah berkembang
pesat.
Ada
beberapa hal yang membuat saya menulis kegusaran tentang masalah sampah. Apalagi, sampah menjadi persoalan lingkungan. Pertemuan
saya dengan salah satu pengelola bank sampah Az-Zahra yang meraih urutan ke-7
mendapat penghargaan penilaian dari Pemerintah Kota Bekasi. Ada hal yang
menarik bahwa selamai ini perjalanan beberapa pengelola bank sampah tidak
survive. Pertanyaannya kemudian adalah sudah
berapakah bank sampah yang benar-benar berjalan pengelolaannya di tingkat RT,
RW bahkan kelurahan? Sudahkah pemerintah atau para steakholder yang ada
melakukan pengawasan yang serius terhadap bank sampah? Jika ini belum berjalan
maksimal maka menjadi cambuk bagi ranah para pengambil kebijakan untuk lebih
aktif. Tetapi, kalau pemerintah mengadakan pengawasan yang serius terhadap
pengelolaan di lapangan, kemudian persoalan sampah apalagi isu lingkungan ini jangan
sampai menjadi ranah kepentingan segelintir orang, yaitu oknum pejabat yang
hanya mementingkan kelompok bahkan pribadi. Kalau pemerintah berjalan sesuai dengan regulasi persampahan maka target Zero Sampah atau isu Indonesia bebas sampah
2020 akan lebih cepat terealisasi. Akhirnya, sampah yang sehari-hari menjadi
persepsi “kotor” tidak akan menjadi
masalah malah terdapat berkah yang berlimpah. Intinya, pemerintah melaksanakan
tugas pokok dan tanggung jawabnya terkait regulasi sampah berpihak kepada
masyarakat. Tanpa ada embel-embel kepentingan.
Saya
penulis juga ikut aktif terlibat sebagai penggerak bank sampah. Tepatnya di
Jalan Perjuangan No. 37 RT 01 RW O1 Kelurahan Marga Mulya Kecamatan Bekasi Utara - Kota Bekasi. Nama
bank sampahnya adalah Bank Sampah Safa Mandiri. Berawal
dari sinilah ketertarikan masalah sampah yang kedepan harapannya sampah sudah
tidak menjadi masalah. Tetapi menjadi suatu keberkahan. Dari sampah setiap
orang bisa mendapat tabungan yang sewaktu-waktu bisa mereka cairkan. Apakah itu
tabungan pendidikan, tabungan sembako, tabungan energi, tabungan qur’ban dan lain-lain.
SAMPAH BUKAN
MASALAH DENGAN PENDEKATAN TEKHNOLOGI
Jika persoalan
sampah ini menjadi isu bersama dari hulu ke hilir maka persoalan di Tempat
Pembuangan Sementara Terpadu (TPST) yang sudah kehabisan lahan juga bisa kita
atasi. Kita ingin meminimalisir sampah tidak lagi polanya di angkut di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) terpadu, tetapi semuanya
bisa dikelola bahkan didaur ulang dan diolah di
tempat pembungan sementara. Dengan Alur
pengelolaan yang berbeda ini, maka jangan sampai ada pengelolaan sampah
tersentralisir di setiap Kabupaten/Kota. Namun pengelolaanya cukup selesai
dengan berbasis Kelurahan/Desa atau bahkan cukup di
tingkat RT/RW saja.
Berikutnya
adalah dengan penerapan program
terpadu di setiap Bank Sampah yang ada pada setiap RT/RW tersebut, maka pengelolaan
sampah tidak lagi perlu sampai berakhir di tingkat Kecamatan hingga
Kabupaten/Kota. Dalam penerapan program terpadu yang mengimplementasikan serta
mengaktualisasikan Iptek Tepat Guna Ramah Lingkungan di setiap Bank Sampah,
maka Bank Sampah yang telah ada akan dapat lebih aktif serta lebih hidup dalam pengelolaan
sampahnya. Penerapan program terpadu yang mengimplementasikan serta
mengaktualisasikan Iptek Tepat Guna Ramah Lingkungan akan melahirkan beberapa unit
kegiatan usaha pemberdayaan masyarakat, seperti “Rumah Inovasi” serta “Bengkel
Kreasi” juga “Gudang bahan bakar ramah lingkungan dan energi bersih”, lalu
“Lumbung pangan agro organik” kemudian “Kios Sinergi” berikut “Klinik terapi
kesehatan terpadu dan alami” hingga “Sekolah Peradaban” (Sekolah Komplementer
berbasis Pengolahan Sampah dan Pemberdayaan Masyarakat), yang itu semua berada
di area atau lokasi yang berdekatan dan Terintegrasi.
Rumah Inovasi serta Bengkel Kreasi adalah wahana
untuk mengolah sampah serta limbah menjadi produk kreatif serta inovatif yang
berfungsi dan bernilai jual tinggi seperti furniture serta alat peraga
pendidikan juga permainan edukatif hingga sparepart
atau komponen mesin. Gudang bahan bakar ramah lingkungan dan energi bersih
adalah wahana untuk mengolah sampah serta limbah menjadi bahan bakar ramah
lingkungan dan energi bersih, dengan menerapkan Iptek Tepat Guna Ramah
Lingkungan Berupa Teknologi Reaksi Kimiawi, Teknologi Concentrated Solar Thermal, Teknologi Plasma Fusion. Sampah atau limbah yang dapat diolah menjadi bahan
bakar ramah lingkungan dan energi bersih adalah sampah organik serta AnOrganik
yang nilai jualnya sangat rendah seperti plastik kresek serta bekas bungkus mie
instan juga bekas bungkus snack. bahan bakar ramah lingkungan tersebut berupa
bahan bakar minyak sintetis serta bahan bakar gas sintetis.
Lumbung pangan agro organik adalah wanaha untuk
mengolah sampah dan limbah sebagai pupuk organik serta pestisida organik untuk
bercocok tanam sayuran serta buah dan tanaman obat secara organik, berikut
beternak cacing serta bekicot dan rayap yang akan diolah menjadi pupuk organik
serta pakan ternak ikan juga pakan unggas berikut pakan kelinci dan pakan
domba.
Kios sinergi adalah wahana yang berfungsi
sebagai tempat untuk menjual produk yang dihasilkan dari rumah inovasi serta
bengkel kreasi juga gudang bahan bakar dan energi bersih berikut lumbung pangan
agro organik, yang dalam transaksinya para pembelinya adalah nasabah dari bank
sampah yang menjadikan saldo tabungannya ditukar dengan voucher yang dapat
digunakan sebagai alat tukar atau alat jual belinya.
Klinik kesehatan alami terpadu adalah wahana
untuk memberikan pelayanan kesehatan serta terapi, yang para pengelolanya
adalah dokter serta paramedis juga terapis kesehatan alami dan terpadu, yang
semua itu menjadikan hasil dari lumbung pangan agro organik sebagai materia
medikanya, untuk direkomendasikan kepada para pasien atau klien yang juga
adalah nasabah dari bank sampah tersebut. Para dokter serta paramedis juga
terapis dari klinik kesehatan alami terpadu akan mendapatkan income yang
dihasilkan dari sebagian keuntungan pengelolaan bank sampah serta kios sinergi.
Sekolah peradaban adalah lembaga pendidikan
serta pelatihan ketrampilan komplementer. Di sekolah ini para pendidik serta pengajarnya adalah
para personal yang mempunyai minat serta kemampuan dalam bidang pendidikan yang
berorientasi pada sektor ketrampilan serta teknologi tepat guna, juga peduli
terhadap pemberdayaan sosial yang berkelanjutan berikut keharmonisan dan
keasrian lingkungan hidup yang lestari. Sekolah peradaban ini pula yang akan
menjadikan sampah serta limbah dan barang bekas menjadi bagian dari sistem
serta proses dan alat dalam melakukan kegiatan belajar dan mengajarnya. Di sekolah
peradaban ini para siswa dapat gratis untuk memperoleh pendidikan berkualitas,
dengan menjadikan sampah serta limbah dan barang bekas sebagai alat bayarnya
sekaligus bahan dasar dan utama untuk melakukan pembelajaran, berupa praktek
eksperimental hingga membuat produk yang sangat bermanfaat dan bernilai jual
yang tinggi. Sehingga dari kegiatan di sekolah tersebut para siswa sudah mempunyai
ketrampilan yang mumpuni dalam berinovasi serta berkreativitas, dengan hasilnya
berupa produk yang dapat dijual untuk biaya operasional serta pengembangan
infrastruktur bagi keberlangsungan dan keberlanjutan sekolah peradaban
tersebut. Produk tersebut mulai dari kerajinan tangan hingga peralatan rumah
tangga ataupun produk – produk bermanfaat lainnya seperti pernak – pernik
aksesoris, perhiasan, furniture, bahan bakar ramah lingkungan hingga mesin –
mesin yang menerapkan iptek tepat guna ramah lingkungan.
Sehingga dengan penerapan program terpadu di
setiap bank sampah yang ada pada setiap rt/rw tersebut, maka sampah bukan lagi jadi masalah, namun sampah adalah aset serta komoditas
juga potensi dan bahkan sampah justru adalah sebagai solusi bagi kita semua,
baik untuk kebutuhan energi serta pangan juga kesehatan berikut pendidikan lalu
penyerapan tenaga kerja hingga penguatan ekonomi
sektor mikro sekala domestik hingga nasional atau makro di negeri nusantara
ini.
Oleh : Ahmad Dahlan ( Direktur Bank Sampah Safa Mandiri, Mantan
Ketua KAMMI NTB 2012-2014)
Era Baru Pengelolaan Sampah Kota
Posted by Pujut Dahlan
Posted on 19.42
with No comments
Berawal dari acara kopi darat dengan teman-teman pegiat bank sampah. Saat itu obrolan kami meluas sampai mencari lahan yang ukuran 1500m sebagai tempat proses pengolahan sampah. Akhirnya, ada usulan dari diskusi tersebut untuk silaturrahmi dengan pegiat bank sampah se-kota Bekasi. Saya berharap bahkan mencari momentum tersebut agar bisa berkumpul bersama dengan para pegiat banks sampah. Target saya hanya ingin bisa sharing berbagi pengalaman suka-dukanya menjadi pegiat bank sampah yang masih menurut kebanyakan orang peekerjaan tersebut seperti tidak ada hasilya.
Salah satu pegiat bank sampah namanya Pak Saeroji bank sampah Az-Zahra memberikan undangan kepada saya untuk hadir dalam acara pembahasan peraturan walikota Bekasi Nomor 20 Tahun 2014 tentang petunjuk pelaksanaan Peratutan Daerah Kota Bekasi Nomor 15 Tahun 2011 tentang pengelolaan sampah di kota Bekasi. Ternyata, keinginan saya tercapai karena dalam pembahasan perwal tersebut semua bank sampah se-Kota Bekasi turut diundang juga. Menurut saya dalam hati, ini kesempatan langka bisa berbagi pengalaman seputar pengelolaan sampah Kota.
Tepatnya tanggal 9 November 2015 yang bertempat di Islamic Centre Kota Bekasi para pegiat bank sampah hadir sebagai bentuk sinergi dan dukungan dengan Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Kebersihan Kota Bekasi . Ada banyak perspektif yang dapat saya gali dalam pengelolaan sampah selama ini yaitu mencoba keluar dari metodologi pengelolaan sampah secara lama/ tradisional menuju era baru pengelolaan sampah di Kota. Gagasan yang cukup cerdas tentang perlunya kita beralih dari era baru pengelolan sampah di Kota, dari salah satu narasumber acara tersebut Ir. Muhammad Satori, MT Dosen Universitas Islam Bandung, sekaligus praktisi yang pernah mendapat penghargaan dari Provinsi Jawa Barat dalam bidang progam pemberdayaan masyarakat di bidang sanitasi yang sekaligus sebagai Ketua RW 22 Desa Tanimulya Kecamatan Ngamprah KBB.
Selama ini fenomena sampah di kota-kota besar menjadi pusat perhatian kita semua. Apalagi melihat sampah plastik yang banyak memberikan dampak terhadap bertambahnya volume sampah yang secara tradisional masih dilakukan dengan cara kumpul angkut buang, membakar sampah atau membuang sampah sembarangan di tempat. Tidak heran kemudian kalau musim tiba saluran air di kali sungai seringkali menimbulkan bencana banjir dan kerap menimbulkan pencemaran lingkungan serta menggangu kesehatan masyarakat. Padahal kalau kita berpikir dengan jeli sampah bisa menhasilkan 'rupiah' dengan cara program bank sampah memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Pengelolaan sampah harus start dari sumbernya dengan cara memilah sampah, mengeolah sampah menjadi kompos Diantaranya ada sampah organik dan organik. Regulasinya sudah diatur dalam UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah kemudian PP No. 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah sejenis Sampah Rumah Tangga.Tidak hanya sampah harus terkelola di sumber sampah yang urgent juga adalah pengadaan sarana/prasarana penampungan sampah dan alat pengakutan sampah untuk menampung dan mengangkut sampah sisa/residu.
Acara tersebut juga memberikan perspektif baru dalam model pengelolaan sampah untuk mengurangi volume sampah dengan prinsip 3R (reduce,reuse, recycle). Reduce yaitu segala aktivitas yang mampu mengurangi dan mencegahnya timbulnya sampah. Reuse yaitu kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau yang lain. Sementara Recycle adalah kegiatan mengolah sampah untuk dijadikan produk baru. Acara tersebut menjadi perspektif baru dalam model pengelolaan sampah dengan paradigma lama yaitu wadah-kumpul-angkut-buang. Sudah tidak sesuai lagi dalam model pengelolaan sampah kota. Jadinya beralih ke 3R





