Copas hendaknya mencantumkan link blog ini. Diberdayakan oleh Blogger.

Iklan

Kalender 2016


Diskusi Masalah Sosial Bersama BNN NTB


Narasumber di TV9 bersama Badan Narkotika Nasional Prov NTB di TV9 dalam program Wajah NTB

Mengawal Pilkada ‘Bumi Tatas Tuhu Trasne’ yang Bermartabat dan Damai

 Pilkada  serentak tinggal menunggu hari. Dimana masyarakat akan  menggunakan hak politiknya memilih calon pemimpinnya  pada tanggal 9 Desember 2015. Di Nusa Tenggara Barat ada tujuh daerah  kabupaten/Kota yang akan ikut serentak melaksanakan euphoria pilkada. Pilkada NTB akan diikuti oleh 26 pasangan calon. Kabupaten Lombok Tengah dengan pasangan terbanyak  ada 6 calon kandidat. Kabupaten Bima ada 5 pasangan calon.. Dompu dengan 4  pasangan calon. Kabupaten Sumbawa dengan 3 pasangan calon. Kabupaten Sumabawa Barat dengan 4 pasangan calon. Kabupaten Lombok Utara 2 pasangan calon. Terakhir Kota Mataram 2 pasangan calon. Sementara  untuk keseluruhan semua daerah ada 269 daerah yang terdiri dari 9 Provinsi , 36 Kota, dan 224 Kabupaten.
Saya pribadi menelisik satu kabupaten yaitu Kabupaten Lombok Tengah dimana saya dilahirkan  dengan harapan pelaksanaan pilkada Lombok Tengah atau kita kenal dengan  ‘Bumi Tatas Tuhu Trasne’ lebih bermartabat dan damai serta menghasilkan pemimpin yang berintigritas serta  amanah. Nama pasangan cabup dan cawabup Kabupaten Lombok Tengah diantaranya 1. H.M Suhaili FT, SH dan Lalu Fathul Bahri, S.Ip diusung oleh PKS dan Gerindra. 2. H. Suharto dan Hj. Lale Widare dari pasangan perseorangan. 3. H. Lalu Suprayatno, SH,MBA,MM dan Zaenul Aidi, SP, diusung oleh partai Demokrat, PBB, PDIP dan PKPI. 4. TGH. L. Gede Ali Wirasakti Amir Murni LC,MA dan H.L Acmad Wirajaya diusung oleh Hanura, Nasdem, PKB. 5. Dari pasangan perseorangan. . H. Lalu Wiratmaja, SH dan H. Badrun Nadianto, S.Sos, S,Kep,M.Pd.
Bicara tentang pilkada berarti melihat tentang sosok figure, track record kapasitas, kapabilitas dan integritas para calon pemimpin yang akan menjadi kontestan. Pada dasarnya prinsip pelaksanaan pilkada adalah  bagaimana rmengedepankan demokrasi agar kedaulatan ada  di tangan rakat bukan di tangan penguasa atau  mereka yang berambisi dengan syahwat politik.
.

Kabupaten Lombok Tengah membutuhkan figure yang tidak hanya mampu berwacana hebat seperti umunya dan kebanyakan orang. Namun dibutukan sebuah dedikasi untuk mengemban amanah dengan baik, memahami persoalan tentang kondisi daerah Lombok Tengah yang  membutuhkan  percepatan program pembangunan  yang baik. Sehingga ketika terpilih benar-benar mengabdi untuk rakyat. Bukannya, setelah jadi malah  meraup uang rakyat dengan mengincar proyek-proyek siluman untuk mengembalikan cost politik. Begitulah, habit para pemimpin kalau sudah duduk di kursi lupa dengan janji-janji politiknya.Sehingga   proses pelaksanaan pilkada sampai terpilihnya pemimpin  menghasilkan output yang tidak produktif malah justru mengkhianati rakyat.
Fakta yang terjadi di beberapa pilkada sebelumnya timbulnya ‘makelar politik’ seperti menguatkan tradisi transaksional politik yang sudah mengakar ke lapisan masyarakat dan merusak tatanan berbangsa dan bernegara sehingga persis yang dikatakan oleh Emmanuel Kant yang muncul kemudian ‘Power tends to corrupt. Absolute power tends to corrupt absolutely’ .Karena untuk mendapatkan kekuasaan itu dengan cara yang salah akhirnya kecendrungan untuk mengumpulkan modal menjadi prioritas, sangat kontraproduktif dengan janji-janji pada waktu kempanye. Masyarakat harus sadar dengan tontonan para actor politik hari ini. Jangan salah memilih pemimpin.  Perubahan  hanya bisa kita wujudkan dengan memilih para pemimpin yang out of the box dalam berpikir.
Selama ini Kabupaten Lombok Tengah dikenal dengan rasa sosialnya masih tinggi. Trah kekeluargaan antar keluarganya masih kuat yang itu semua menjadi ruang para kandidat masuk dengan bersilaturrahmi. Jangan sampai masyarakat Lombok Tengah hanya dijadikan objek dari proses demokrasi ini. Demokrasi harus benar-benar fair.Dari proses pelaksanaannya harus jujur dan adil tanpa ada yang dirugikan. Harapannya proses demokrasi pilkada di Lombok Tengah menghasilkan kualitas pemimpin  bukan dinilai dari detik-detik terakhir yang bisa diselesaikan dengan ‘uang’ namun lebih pada pencerdasan politik masyarakat Lombok Tengah.
Kita semua mengetahui Masyarakat Lombok Tengah juga hampir warganya adalah orang berpendidkan yang tentunya punya ekspektasi tinggi menginginkan sosok figure yang secara kapasitas sudah tidak diragukan lagi memimpin Bumi Tatas Tuhu Trasna. Fakta integritas antar semua calon kandidat juga harus disepakati supaya tidak ada tendensi terjadinya konflik vertical dan horizontal baik sebelum pelaksanan pilkada maupun pasca pelaksanaan pilkada. Karena kita tidak ingin masyarakat mudah terprovokasi apalagi lebih mengedapankan otot atau kita kenal dengan  ‘pagahnya’  daripada otak. Pemimpin yang kita harapkan adalah yang mampu membawa perubahan lebih baik selama 5 tahun ke depan. Saya pribadi mengakui progress pembangunan Lombok Tengah selama kepemimpinan Suhaili –Normal cukup bagus walaupun memang banyak hal juga yang  belum optimal. Apalagi Pemimpin terpilih nanti tidak hanya focus pada  Pembangunan infrastruktur secara fisik, sumber daya manusia juga butuh perhatian serius, pemimpin berikutnya juga harus lebih kreatif dalam hal pencapian anggaran jangan mengulangi kecelakaan sejarah dengan kesalahan difisit anggaran namun peningkatan PAD juga harus di tingkatkan, visi-misi jangan hanya simbol dengan judul-judul besar  tapi tetap berpacu dan berporos pada visi-misi yang kuat untuk dilaksanakan.
Dari lima pasang kandidat yang bertarung pada tanggal 9 Desember 2015 nanti sudah saatnya masyarakat Kabupaten Lombok Tengah memilih pemimpin yang punya kapasitas dan kapabilitas memimpin untuk membawa daerah lebih baik dari sebelumnya. Masyarakat Lombok Tengah sudah harus meninggalkan sistem feodalistik yaitu memilih berdasarkan kedekatan kekeluargaan. Dan matrealisitik. yaitu memilih karena ada potensi uang yang diberikan oleh calon kandidat. Jangan sampai waktu yang 5 tahun tergadai oleh persoalan uang. Jangan sampai hak politik kita pada tanggal 9 Desember 2015 nanti  kita jual,  harkat dan martabat daerah kita jadi rendah karena kita salah memilih pemimpin.


 Oleh : Ahmad Dahlan ( Mantan Ketua Umum KAMMI NTB 2012-2014)



Sampah Bukan Masalah

Selama ini sampah selalu dipahami sebagai benda yang tidak berguna sampah identik dengan suatu yang “kotor”. Namun kini sampah tengah naik daun. Sampah tidak lagi dipandang picik sebelah mata, karena ternyata memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi ketika dikelola oleh orang-orang yang kreatif. Persoalan sampah memang masih menjadi persoalan pelik bagi kota-kota di Indonesia. Tak terkecuali bagi kota besar- besar  yang tengah berkembang pesat.
                     Ada beberapa hal yang membuat saya menulis kegusaran  tentang masalah sampah. Apalagi,  sampah menjadi persoalan lingkungan. Pertemuan saya dengan salah satu pengelola bank sampah Az-Zahra yang meraih urutan ke-7 mendapat penghargaan penilaian dari Pemerintah Kota Bekasi. Ada hal yang menarik bahwa selamai ini perjalanan beberapa pengelola bank sampah tidak survive.  Pertanyaannya kemudian adalah sudah berapakah bank sampah yang benar-benar berjalan pengelolaannya di tingkat RT, RW bahkan kelurahan? Sudahkah pemerintah atau para steakholder yang ada melakukan pengawasan yang serius terhadap bank sampah? Jika ini belum berjalan maksimal maka menjadi cambuk bagi ranah para pengambil kebijakan untuk lebih aktif. Tetapi, kalau pemerintah mengadakan pengawasan yang serius terhadap pengelolaan di lapangan, kemudian persoalan sampah apalagi isu lingkungan ini jangan sampai menjadi ranah kepentingan segelintir orang, yaitu oknum pejabat yang hanya mementingkan kelompok bahkan pribadi. Kalau pemerintah berjalan sesuai dengan regulasi persampahan  maka target  Zero Sampah atau isu Indonesia bebas sampah 2020 akan lebih cepat terealisasi.  Akhirnya, sampah yang sehari-hari menjadi persepsi  “kotor” tidak akan menjadi masalah malah terdapat berkah yang berlimpah. Intinya, pemerintah melaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya  terkait regulasi sampah berpihak kepada masyarakat. Tanpa ada embel-embel kepentingan.
                     Saya penulis juga ikut aktif terlibat sebagai penggerak bank sampah. Tepatnya di Jalan Perjuangan No. 37 RT 01 RW O1 Kelurahan Marga Mulya Kecamatan Bekasi Utara - Kota Bekasi. Nama bank sampahnya adalah Bank Sampah Safa Mandiri. Berawal dari sinilah ketertarikan masalah sampah yang kedepan harapannya sampah sudah tidak menjadi masalah. Tetapi menjadi suatu keberkahan. Dari sampah setiap orang bisa mendapat tabungan yang sewaktu-waktu bisa mereka cairkan. Apakah itu tabungan pendidikan, tabungan sembako, tabungan energi, tabungan qur’ban dan lain-lain.
SAMPAH BUKAN MASALAH DENGAN PENDEKATAN TEKHNOLOGI
                     Jika persoalan sampah ini menjadi isu bersama dari hulu ke hilir maka persoalan di Tempat Pembuangan Sementara Terpadu (TPST) yang sudah kehabisan lahan juga bisa kita atasi. Kita ingin meminimalisir sampah tidak lagi polanya di angkut di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) terpadu, tetapi semuanya bisa dikelola bahkan didaur ulang dan diolah di tempat pembungan sementara. Dengan Alur pengelolaan yang berbeda ini, maka jangan sampai ada pengelolaan sampah tersentralisir di setiap Kabupaten/Kota. Namun pengelolaanya cukup selesai dengan berbasis Kelurahan/Desa atau bahkan cukup di tingkat RT/RW saja.
                     Berikutnya adalah  dengan penerapan program terpadu di setiap Bank Sampah yang ada pada setiap RT/RW tersebut, maka pengelolaan sampah tidak lagi perlu sampai berakhir di tingkat Kecamatan hingga Kabupaten/Kota. Dalam penerapan program terpadu yang mengimplementasikan serta mengaktualisasikan Iptek Tepat Guna Ramah Lingkungan di setiap Bank Sampah, maka Bank Sampah yang telah ada akan dapat lebih aktif serta lebih hidup dalam pengelolaan sampahnya. Penerapan program terpadu yang mengimplementasikan serta mengaktualisasikan Iptek Tepat Guna Ramah Lingkungan akan melahirkan beberapa unit kegiatan usaha pemberdayaan masyarakat, seperti “Rumah Inovasi” serta “Bengkel Kreasi” juga “Gudang bahan bakar ramah lingkungan dan energi bersih”, lalu “Lumbung pangan agro organik” kemudian “Kios Sinergi” berikut “Klinik terapi kesehatan terpadu dan alami” hingga “Sekolah Peradaban” (Sekolah Komplementer berbasis Pengolahan Sampah dan Pemberdayaan Masyarakat), yang itu semua berada di area atau lokasi yang berdekatan dan Terintegrasi.        
                     Rumah Inovasi serta Bengkel Kreasi adalah wahana untuk mengolah sampah serta limbah menjadi produk kreatif serta inovatif yang berfungsi dan bernilai jual tinggi seperti furniture serta alat peraga pendidikan juga permainan edukatif hingga sparepart atau komponen mesin. Gudang bahan bakar ramah lingkungan dan energi bersih adalah wahana untuk mengolah sampah serta limbah menjadi bahan bakar ramah lingkungan dan energi bersih, dengan menerapkan Iptek Tepat Guna Ramah Lingkungan Berupa Teknologi Reaksi Kimiawi, Teknologi Concentrated Solar Thermal, Teknologi Plasma Fusion. Sampah atau limbah yang dapat diolah menjadi bahan bakar ramah lingkungan dan energi bersih adalah sampah organik serta AnOrganik yang nilai jualnya sangat rendah seperti plastik kresek serta bekas bungkus mie instan juga bekas bungkus snack. bahan bakar ramah lingkungan tersebut berupa bahan bakar minyak sintetis serta bahan bakar gas sintetis.
                     Lumbung pangan agro organik adalah wanaha untuk mengolah sampah dan limbah sebagai pupuk organik serta pestisida organik untuk bercocok tanam sayuran serta buah dan tanaman obat secara organik, berikut beternak cacing serta bekicot dan rayap yang akan diolah menjadi pupuk organik serta pakan ternak ikan juga pakan unggas berikut pakan kelinci dan pakan domba.
                     Kios sinergi adalah wahana yang berfungsi sebagai tempat untuk menjual produk yang dihasilkan dari rumah inovasi serta bengkel kreasi juga gudang bahan bakar dan energi bersih berikut lumbung pangan agro organik, yang dalam transaksinya para pembelinya adalah nasabah dari bank sampah yang menjadikan saldo tabungannya ditukar dengan voucher yang dapat digunakan sebagai alat tukar atau alat jual belinya.
                     Klinik kesehatan alami terpadu adalah wahana untuk memberikan pelayanan kesehatan serta terapi, yang para pengelolanya adalah dokter serta paramedis juga terapis kesehatan alami dan terpadu, yang semua itu menjadikan hasil dari lumbung pangan agro organik sebagai materia medikanya, untuk direkomendasikan kepada para pasien atau klien yang juga adalah nasabah dari bank sampah tersebut. Para dokter serta paramedis juga terapis dari klinik kesehatan alami terpadu akan mendapatkan income yang dihasilkan dari sebagian keuntungan pengelolaan bank sampah serta kios sinergi.
                     Sekolah peradaban adalah lembaga pendidikan serta pelatihan ketrampilan komplementer. Di sekolah  ini para pendidik serta pengajarnya adalah para personal yang mempunyai minat serta kemampuan dalam bidang pendidikan yang berorientasi pada sektor ketrampilan serta teknologi tepat guna, juga peduli terhadap pemberdayaan sosial yang berkelanjutan berikut keharmonisan dan keasrian lingkungan hidup yang lestari. Sekolah peradaban ini pula yang akan menjadikan sampah serta limbah dan barang bekas menjadi bagian dari sistem serta proses dan alat dalam melakukan kegiatan belajar dan mengajarnya. Di sekolah peradaban ini para siswa dapat gratis untuk memperoleh pendidikan berkualitas, dengan menjadikan sampah serta limbah dan barang bekas sebagai alat bayarnya sekaligus bahan dasar dan utama untuk melakukan pembelajaran, berupa praktek eksperimental hingga membuat produk yang sangat bermanfaat dan bernilai jual yang tinggi. Sehingga dari kegiatan di sekolah tersebut para siswa sudah mempunyai ketrampilan yang mumpuni dalam berinovasi serta berkreativitas, dengan hasilnya berupa produk yang dapat dijual untuk biaya operasional serta pengembangan infrastruktur bagi keberlangsungan dan keberlanjutan sekolah peradaban tersebut. Produk tersebut mulai dari kerajinan tangan hingga peralatan rumah tangga ataupun produk – produk bermanfaat lainnya seperti pernak – pernik aksesoris, perhiasan, furniture, bahan bakar ramah lingkungan hingga mesin – mesin yang menerapkan iptek tepat guna ramah lingkungan.
                     Sehingga dengan penerapan program terpadu di setiap bank sampah yang ada pada setiap rt/rw tersebut, maka sampah bukan lagi jadi masalah, namun sampah adalah aset serta komoditas juga potensi dan bahkan sampah justru adalah sebagai solusi bagi kita semua, baik untuk kebutuhan energi serta pangan juga kesehatan berikut pendidikan lalu penyerapan tenaga kerja hingga penguatan ekonomi sektor mikro sekala domestik hingga nasional atau makro di negeri nusantara ini.

 Oleh : Ahmad Dahlan  ( Direktur Bank Sampah Safa Mandiri, Mantan Ketua KAMMI NTB 2012-2014)

Era Baru Pengelolaan Sampah Kota

Berawal dari  acara kopi darat dengan teman-teman pegiat bank sampah. Saat itu obrolan kami meluas sampai  mencari lahan yang ukuran 1500m  sebagai tempat proses pengolahan sampah. Akhirnya, ada usulan dari diskusi tersebut untuk silaturrahmi dengan pegiat bank sampah se-kota Bekasi. Saya berharap bahkan mencari momentum tersebut agar bisa berkumpul bersama dengan para pegiat banks sampah. Target saya hanya ingin  bisa sharing berbagi pengalaman suka-dukanya menjadi pegiat bank sampah yang masih menurut kebanyakan orang peekerjaan tersebut seperti tidak ada hasilya.
Salah satu pegiat bank sampah namanya Pak Saeroji bank sampah Az-Zahra memberikan undangan kepada saya untuk hadir dalam acara  pembahasan peraturan walikota Bekasi Nomor 20 Tahun 2014 tentang petunjuk pelaksanaan Peratutan Daerah Kota Bekasi Nomor 15 Tahun 2011 tentang pengelolaan sampah di kota Bekasi. Ternyata, keinginan saya tercapai  karena dalam pembahasan perwal tersebut semua bank sampah se-Kota Bekasi turut diundang juga.  Menurut saya dalam hati, ini kesempatan langka bisa berbagi pengalaman seputar pengelolaan sampah  Kota.
Tepatnya tanggal 9 November 2015 yang bertempat di Islamic Centre Kota Bekasi para pegiat bank sampah hadir sebagai bentuk sinergi dan dukungan dengan Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Kebersihan Kota Bekasi . Ada banyak perspektif yang dapat saya gali dalam pengelolaan sampah selama ini yaitu mencoba keluar dari metodologi pengelolaan sampah secara lama/ tradisional menuju era baru pengelolaan sampah di Kota. Gagasan yang cukup cerdas  tentang perlunya kita beralih dari era baru pengelolan sampah di Kota, dari salah satu narasumber acara tersebut Ir. Muhammad Satori, MT Dosen Universitas Islam Bandung, sekaligus praktisi yang pernah mendapat penghargaan dari Provinsi Jawa Barat dalam bidang progam pemberdayaan masyarakat di bidang sanitasi yang sekaligus sebagai Ketua RW 22 Desa Tanimulya Kecamatan Ngamprah KBB.
Selama ini fenomena sampah di kota-kota besar menjadi pusat perhatian kita semua. Apalagi melihat sampah plastik yang banyak memberikan dampak terhadap bertambahnya volume sampah yang secara tradisional masih dilakukan dengan cara kumpul angkut buang, membakar sampah atau membuang sampah sembarangan di  tempat. Tidak heran kemudian kalau musim tiba saluran air di kali sungai seringkali menimbulkan bencana banjir dan kerap menimbulkan pencemaran lingkungan serta menggangu kesehatan masyarakat. Padahal kalau kita berpikir dengan jeli sampah bisa menhasilkan 'rupiah' dengan cara program bank sampah memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Pengelolaan sampah harus start dari sumbernya dengan cara memilah sampah, mengeolah sampah menjadi kompos Diantaranya ada sampah organik dan organik. Regulasinya sudah diatur dalam UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah kemudian PP No. 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah sejenis Sampah Rumah Tangga.Tidak hanya sampah harus terkelola di sumber sampah yang urgent juga adalah pengadaan sarana/prasarana penampungan sampah dan alat pengakutan sampah untuk menampung dan mengangkut sampah sisa/residu.
Acara tersebut juga memberikan perspektif baru dalam model pengelolaan sampah untuk mengurangi volume sampah dengan prinsip 3R (reduce,reuse, recycle). Reduce yaitu segala aktivitas yang mampu mengurangi dan mencegahnya timbulnya sampah. Reuse yaitu kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau yang lain. Sementara Recycle adalah kegiatan mengolah sampah untuk dijadikan produk baru. Acara tersebut menjadi perspektif baru dalam model pengelolaan sampah dengan paradigma lama yaitu wadah-kumpul-angkut-buang. Sudah tidak sesuai lagi dalam model pengelolaan sampah kota. Jadinya beralih ke 3R


 Oleh : Ahmad Dahlan  ( Direktur Bank Sampah Safa Mandiri, Mantan Ketua KAMMI NTB 2012-2014)

lebel